Jumat, 14 Agustus 2020
Potret Miris Pendidikan Di Tengah Pandemi
Rabu, 06 Juni 2018
Saat Pelecehan Menjadi Kewajaran
Sampai saat ini, respon masyarakat terhadap pelecehan seksual yg diterima oleh beberapa perempuan kebanyakan memojokkan perempuan itu sendiri. Mereka sesama perempuan yang hilang empati. Saat harassment victim berani speak up, penggiringan opini pun dilakukan. Ada yg berkata,
"makanya tutup aurat."
"wajarlah orang bule lebay bgt dilecehin gitu doang."
"Becanda doang elaah namanya juga cowo"
Where is your brain dude?
Kami perempuan punya martabat dan harga diri. Semua pihak harus menghargai hal tsb. Jangan seenaknya melakukan pelecehan langsung maupun tidak langsung dengan alasan bercanda dan iseng. Hei, kami perempuan adalah manusia, bukan objek candaan seksual.
.
Rape culture, kondisi lingkungan di mana kekerasan seksual dianggap normal dan dianggap dapat dimaklumi. Rape culture diperkuat dengan penggunaan bahasa merendahkan, mengganggap perempuan dan tubuhnya sebagai objek belaka, dan justru meninggikan posisi pelaku kekerasan.
Mungkin kalian para laki-laki tidak merasakan bagaimana rasanya rentan dan tidak nyaman terus menerus. Laki-laki keluar tengah malam, naik angkot berdesakan adalah hal biasa. Namun perempuan sebaliknya, rasa tidak nyaman dan was-was terus bermunculan. Mereka takut untuk sekedar keluar malam menyapa bulan, uring-uringan memikirkan baju apa yg akan dia pakai agar tidak terjadi cat calling, bagaimana mereka selalu waspada di busway, angkot dan terminal.
Mereka selalu memikirkan, bagaimana jika ada preman lewat?
Bagaimana jika jalanan sana sepi?
Bagaimana aku pulang nanti?
Kebebasan perempuan sekali lagi masih terbatas.
.
Dan salah satu ciri rape culture yang paling dominan, selalu fokus pada "mengajari perempuan bagaimana seharusnya bersikap, berpakaian, berprilaku agar tidak menjadi korban pelecehan". Alih-alih justru mengabaikan yang lebih penting "AJARI LAKI-LAKI BIAR TIDAK MELECEHKAN"
Sayangnya, banyak perempuan yang saling menjatuhkan perempuan lain. Alasannya sederhana, perempuan bisa lebih jahat dengan sesamanya. Namun dapat luluh dengan kata-kata pria. Sehingga pria merasa bebas, merasa hebat jika berhasil menaklukan perempuan, namun perempuan yg menolaknya diberi stigma sok cuek, dingin, sombong, sok cakep oleh perempuan lain. Thats why, I ask you where is your brain?
.
Dengan doktrin dan pemahaman bahwa pelecehan seksual adalah hal yg wajar karena bagaimanapun boys will be boys, maklum cowok, makanya tutup aurat, pakaian dibenerin. Thats big wrong!
betapa banyak cewek yang mengalami hal sama tapi hanya diam dan takut karena stigma masyarakat. Di saat dunia bersatu melawan pelecehan seksual eh mereka malah nganggap pelecehan itu wajar. Oh negeriku...
Jika kamu peduli dengan korban, tolong dengrakan! dengarkan! dengarkan! Pahami pesan yang disampaikan, sikapi dengan sabar, empati, dan tulus. Berpihaklah pada korban pelecehan seksual. Ciptakan rasa aman dan nyaman agar ia tak merasa sendiri hingga rendah diri. Dukung korban untuk speak up, melaporkan dan mendapatkan layanan pendampingan. Karena sejatinya, harassment victim bisa berakhir pada depressed jika tidak didukung dengan baik.
Selasa, 08 Mei 2018
Jadi Perempuan Seperti Apakah Anda?
(Aku harap kalian ga males baca)
Aku miris sekali, melihat fenomena pelakor yang hanya mempersekusi wanita sebagai korban, sedangkan pria yang sama-sama melakukan kesalahan terbebas dari hukuman sosial. Apakah perempuan adalah objek pelampiasan kesalahan?
Ini hanya curhatan sebagai perempuan tentang standart2 tertentu yang dibebankan kepada kaum wanita malah ada yg mengarah pada misoginis.
misalnya, "Hei kamu cewek pake celana gombreng mulu ntar cowok pada menjauh."
so? apa aku harus pakai koteka gitu?
"Dada datar gitu unfaedah banget. cowo mana mau"
sama dada sapi aja yelaw.
"Kamu cantik deh. pantes jadi wakil ketua kelas"
cewe cantique kek gue emang gabisa jadi ketua kelas ya?
“Aku enggak bisa menahan diriku karena kamu cantik banget.”
Jangan lemparkan kesalahanmu padaku karena kamu enggak bisa mengontrol dirimu sendiri.
"ngapain sekolah tinggi2 ntar cowo pada ga mau, jadi perawan tua."
Gw sukses bukan buat cowo. Gw sukses buat diriku sendiri.
.
Dan masih banyak lagi mereka mendoktrin cewe harus ini itu sesuai dengan standart mereka.
.
So? cewek bukan barang yg bisa diatur warna, bahan, dan bentuk seenaknya. Parahnya, sebagian besar yang mengatakan itu adalah perempuan sendiri yg menjatuhkan perempuan lain. why? Kita generasi kartini, tp jiwa kartini seakan enggan hinggap di hati para perempuan indonesia. Mereka sibuk ghibah, saat kita berusaha untuk memperjuangkan hidup.
what about man?
Aku, kamu, kalian, Kita sama2 manusia yang punya 1 pencipta, bukan ayah ibumu, namun Tuhan sang pencipta. Look at them, they are us! What differences do you see? Jadilah dirimu sendiri, ikuti kata hatimu. Jangan hanya perkataan seseorang membuatmu berubah pola pikir ke arah negatif hingga mengubah penampilan demi mereka.
.
Jadi perempuan harus kritis, ada saatnya kamu harus realistis, ada saatnya kamu harus idealistis. jangan layu hanya karena gombalan pria.
Teringat ucapan Dilan, "Jangan rindu, berat, biar aku saja." hidupku juga berat kok, kenapa ga hidup aku aja yang kamu tanggung?
Digombolin mulu sih, disuruh nunggu mulu, tapi endingnya cuma dijadikan masa lalu, gak diajak ketemu pak penghulu. Makan tuh gombal gundul.
Selasa, 06 Maret 2018
Pelakor? Standar Ganda Atau Propaganda?
PELAKOR.
Entahlah saya merasa sebutan ini punya standar ganda. Istilah “dari perempuan untuk perempuan tersebut” diciptakan untuk menyudutkan perempuan. Seolah-olah pihak pria gak punya peran apa-apa.
Apakah ini Propaganda pelakor?
Dimana saat satu orang menciptakan suatu propaganda tentang ini, masyarakat luas pun termakan oleh stigma-stigma negatif yang melekat pada perempuan, apalagi dengan adanya sebutan pelakor ini.
Baru2 ini heboh video tentang pelakor yang dilempari uang karena si istri merasa teman baiknya merebut suami sahnya demi ekonomi. Perempuan pelaku perselingkuhan diumpat, dikatakan tak bermoral, dikatakan hina dan zina, sedangkan si istri sah dikatakan tak bisa menjaga suami dan tak mahir berdandan.
Puas? Tentu saja belum. Agar semakin drama, disebarlah screenshot chat antara keduanya. Sangat jarang dijumpai komentar yang menyudutkan laki-laki yang berselingkuh. Wah enak ya jadi laki-laki jika kasus perselingkuhan muncul. Jika dulu kasus perselingkuhan dianggap aib keluarga yang harus disembunyikan rapat2, lain halnya sekarang yang dengan gampangnya membeberkan di media sosial. Yang penting amarah tersalurkan, malu urusan belakangan. Alasan memberi efek jera dan sanksi sosial juga percuma jika hanya wanita yang menanggung semuanya. Sedangkan si pria, tanpa suara sekuat tenaga ditutup serapat mungkin.
Bagaimana peran media? Bukannya ikut tren, media malah menempatkan perempuan sebagai pihak yang bersalah sehingga layak dipersekusi dengan sebutan pelakor. Sebutan pelakor sudah lebih cukup menunjukkan kasus misoginis diantara kaum wanita. Saya menulis ini bukan berarti mendukung perselingkuhan, jika selingkuh itu salah, maka keduanya sama bersalah. Kenapa hanya mempermalukan pihak wanita? Bukankah perselingkuhan ada karena kedua belah pihak yang berperan aktif membangun hubungan yang mengatasnamakan cinta? So?
Oke, saya tau. Wanita adalah makhluk Tuhan yang paling sensitif, mengutamakan hati diatas segalanya. Dengan kesensitifan wanita, si istri terbawa emosi sampai menganiaya secara mental si pelakor. Namun, tanpa sadar tindakan itu bukan simpati, malah menghasilkan antipati. Saya juga wanita, memang saya belum pernah menikah dan saya bisa berbicara seperti ini, why? Nggak semua orang menikah sebagai tujuan hidup.
Rasa-rasanya perjuangan mendiang RA Kartini terasa sia-sia saat wanita indonesia yang beliau dulu perjuangkan malah saling serang, bukannya menguatkan satu sama lain. Ya, mereka ada disekitar kita.
Kamis, 07 September 2017
Literasi Kritis, Semakin Kritis
Indonesia menempati urutan no. 2 dari bawah setelah afrika dari 65 negara dalam hal literasi. Setelah santernya Tere Liye menarik SEMUA buku di semua toko buku, bagaimana kabar anak negeri sekarang? Namun, Mr. Tere Liye masih aktif didunia literasi. Hebat bapak! Walau saya tidak mengerti sama sekali soal dunia pajak. But I'll try to understand it.
Entah itu mba dee, atau pak tere anda adalah termasuk pejuang literasi, anda adalah pahlawan literasi. Dengan royalti dan pajak yang tinggi seperti ini bahkan tidak menyurutkan Tere Liye untuk menulis, walau tidak berbentuk buku.
.
Sebenarnya, menulis itu tergantung tujuan hidup. Setiap penulis punya alasannya masing2 menerbitkan buku sekian lama buah hasil dari pemikiran, perenungan bahkan riset yang tak terhitung jumlahnya.
Ada yang mengejar uang, ada yang mengejar nama dan popularitas, ada yang mengejar ilmu, ada juga yang mengejar apresiasi. Tidak bisa dipukul rata. Toh, ISBN bukan sbg syarat wajib menerbitkan buku, yang penting karya kita dinikmati, karya kita dibaca, karya kita dilirik.
Pramoedya Ananta Noer tidak pernah memikirkan soal ISBN waktu pertama kali menulis. Mau plagiat? itu terserah samean. Mau bangga atas karya sendiri atau orang lain. toh penulis masih bisa menulis selagi mereka punya tangan.
.
Saya anak indonesia, saya anak pancasila. Tapi mengapa yang berkuasa menyulitkan kami menjadi anak pancasila?
Selasa, 07 Maret 2017
Sharing about me
Mumpung mau kelulusan nih, gue pengen sedikit berbagi tentang diri gue dan lika-liku gue yang berhasil masuk SMK Negeri 3 Kediri jurusan tata boga. Tanpa pemalsuan sedikitpun, karena gue pengen berbagi dengan kalian secara jujur, netral, dan tidak terlalu menggebu-gebu.
Kalo ada kesamaan nama, tempat, atau pengalaman yakinlah bahwa dunia ini sempit bung! sama bukan berarti jodoh, jodoh tak selalu sama. Intinya, gue gak pengen ada komentar yang terlalu drama queen tentang 'nyama-nyamain' pengalaman gue. Sip lu, dasar writer banyak bacot!
3 tahun yang lalu, tepatnya sewaktu perpisahan SMP, gue adalah manusia paling sendu, tersakiti dan santai berkepala es batu secara bersamaan. Bisa gue bilang perpisahan SMP adalah perpisahan yang paling GAGAL, paling TAK BERKESAN, BIASA SAJA (bagi gue pribadi. entahlah yg lain.) Enggak ada tuh gue yg nangisin mereka. Sedih? enggak. Sama sekali.
Sayangnya, alasannya tidak bisa gue beritahu disini. Biarlah waktu yang menjawab. Semenjak itu, saya berubah. Apalagi ditambah tragedi 'top problem in my life' bener-bener bikin gue depresi, marah, sedih yg gue tahan sampe sekarang. Tau kan maksudnya? gue bisa becanda, ketawa-ketiwi nampang senyum. Tapi, jika anda melihat gue minim ekspresi, minim obrolan, dingin, cuek, angkuh, selamat! anda dapat mengetahui sifat asli gue. Inilah wajah asli gue tanpa topeng. Biasanya orang yg gak terlalu deket sama gue sih yang ngalamin ini.
"Kakak... tulisan kakak melenceng dari judul."
"Oh. Sekedar tulisan pengakuan terlarang."
Gue datang hingga pulang perpisahan tanpa menyapa teman sekelas sedikitpun. Karena ketika saya datang, saya duduk paling pinggir berbaur sembari mencari teman sekelas berharap mereka merekomendasikan tempat duduk yang dekat dengan mereka yang juga tak pernah menyapa saya. Entah hawa kehadiran saya yang tipis macem Kuroko Tetsuya-coret- atau memang mereka semua kehabisan bangku-coret- Akhirnya selama acara, gue berbaur sama Uknown Freak Genk. Gak kenal siapa mereka, gak pernah cuap-cuap, apalagi tatapan muka. Entah gue gak terlalu peduli.
^^^^^
Saat mama nanya, "kamu mau sekolah di sma mana?" dengan angkuhnya gue menjawab "gak perlu sma. disana ada matematika, fisika, kimia, sosiologi, sejarah."
Gue gak suka pelajaran logika. Gak minat, benci. Cuma dua ilmu yang bisa bikin gue tertarik, Ilmu Astronomi dan Ilmu sastra. Gue bahkan belajar otodidak dari Internet tentang sastra. And im feel very excited about astronomi. Dan gue juga meyakini adanya hal yg dianggap tabu dan takhayul namun masih berhubungan dengan science. About Time Machine, paradoks waktu dan Time Travel.
Dan gue langsung mikir kalo gue kayaknya harus milih SMK. Dulu kepengen banget jurusan TI Multimedia. Kan emang suka gambar sama desain, suka otak atik photoshop, corel draw malah udah daftar dan bayar biaya pendaftaran di salah satu smk TI swasta di Kediri.
Sebagai pilihan kedua, gue ISENG mendaftarkan diri ke SMKN 3 Kediri. Karena gue pikir pilihan kedua ini keren. Sekolah bisnis, sekolah pariwisata, sekolah ketrampilan kejuruan jadi satu. Jurusan yg gue incar adalah tata busana. Karena lagi-lagi saya suka gambar dan desain -interior rumah-coret- saya juga orangnya gak mau repot capek-capek berdiri cuma buat satu hal.
Pilihan kedua, yaitu tata boga. Kenapa saya pilih tata boga, ya karena entahlah. Saya pun sampai sekarang masih belum tahu apa tujuan saya masuk ke dunia boga. Cita-cita saya bukanlah chef atau apapun itu. Pengen tahu cita-cita saya bermutasi berapa kali?
Taman Kanak Kanak:
"Mba Arum... kalo udah gede mau jadi apa, hayo?"
"Jadi dokter bu!"
(Jawaban klise dari bocah polos imut nan lugu)
Sekolah Dasar:
-Guru Bahasa Indonesia
(Cita-cita mulia seorang bocah ingusan yg ditulis dikertas formulir apalah lupa)
-Dokter
(Anjirr cita-cita ini belum move on)
-Guru Agama
(Qaqa solekhah koqh CMIIW)
-Penulis
(Mulai hobi nulis sejak kelas 3 SD. Seringnya sih membuat puisi. Pernah sewaktu kelas 5 SD, satu kelas diberi tugas membuat satu buah puisi lalu dikumpulkan untuk selanjutnya dianalisa oleh wali kelas. Tiba-tiba nama saya dipanggil dan si wali kelas 5. Entah dia kelihatannya serius sekali dengan pandangan 'lu gak nyontek kan rum! gak nyontek kan?' -_-
SMP
-Designer
(Lagi-lagi hobi saya menggambar dan mendesain)
-Penulis
(Jiwa lama masih berkobar!)
SMA
-Penulis
(Nah kan...)
-Jurnalis
(Masih berhubungan dengan menulis)
Dari kesimpulan di atas, gue tak pernah kepikiran sama sekali cita-cita menjadi chef.
Tapi yah ada pengumuman diterima di smk negeri, hati ortu siapa yg gak senang?
Selain biaya yg lebih terjangkau, gak ada tarikan biaya tambahan. Daripada di SMK TI yang berharga selangit, smk negeri lebih terjangkau
Haruslah gue pendam dulu impian saya masuk sekolah TI. Melayanglah uang pendaftaran (waktu itu bayar 200k buat bayar formulir pendaftaran)
Namun, nyasar di tata boga sampe lulus gini juga harus disyukuri banyak ilmu nyasar juga yg bermanfaat walau gak sesuai passion, minat dan bakat. Hehehe masih semangat kok gue mengejar pasion gue. doakan aja ya!
NB: hai alumni #SMKN3KDR tahun 2015/2016 ^^
Just Typing Today
Long Quotes:
"Sometimes I hate myself, I hate my ego, I hate my freedom, I hate someone who became target for my ego. It's my nature, I'm not irritable, but once I get angry, I get dissapointed, my ego was going out so much. I hate this fact."
Seringkali aku benci dengan diriku sendiri, aku benci egoku, aku benci kebebasanku, dan terlebih aku benci dengan seseorang yang menjadi sasaran egoku. Aku gak mau ini terjadi sebenarnya, aku bukan orang yang sensitif dan gampang marah. Namun, ada saatnya jika aku terlanjur kecewa, lalu marah, egoku bisa meluap berkali lipat. Orang yang mungkin aku sayangi akan merasa sakit karena egoku yang tak bisa kukendalikan. Aku benci fakta ini, namun apa yang aku bisa?
Faktanya aku kalah dengan egoku sendiri, aku dikuasai oleh adidaya egoisme yang menjajah hidupku, aku menyerah dengan keramaian dan memilih kesepian. Hanya sebatas aman didalam sini. Takut seolah-olah batas amanku ini aku rusak.
Aku benci kebebasanku. Seperti mereka yang terlalu tak peduli padaku, aku bebas. Mau bergaya punk jalanan, jam berapapun aku menjemput rumah, aku dipersilahkan. Seolah aku ini antara ada dan tiada. Aku bebas, aku kasar, aku gak sabaran, aku ga punya rem yang bisa kukendalikan. I'm such a liar.
Aku punya motto hidup:
Kalian kupersilahkan men-judge apapun tentang aku. Apapun. Aku menerima. Tapi alangkah lebih baik kalian men-judge di depanku. Jika aku salah, marahilah aku didepanku. Dengan kamu marah aku dapat mengerti. Diam adalah emas, namun akhir dari ke-diam-an adalah muak. Jika aku dapat mengerti dari sudut pandang mana kalian melihatku, dan akupun dapat memperbaiki apa yang negatif padaku dari cara berpikir kalian. Tentunya aku telah berhasil menjaga mottoku ini. Aku sendiri pernah berkata, sulitnya menjaga motto diri sendiri, ada underground yang bekerja menghancurkan. Dan tentunya aku gak mau ini terjadi.
just open with me.
an absurd typing... but dont ignore me.
by:arumpurwanti
Rabu, 08 Juni 2016
Pengalaman First Job interview.
Ada cerita nih dari saya sesudah melamar kerja dan mendapat panggilan interview dari PT. XX disalah satu kota Kediri. For your information, saya lulusan SMK jurusan Tata Boga yang gak pinter-pinter banget masak. Jadi buang anggapan bahwa anak boga selalu pinter masak, anak busana pinter menjahit, anak IPA pinter berotak, anak IPS pinter menghafal.
Saya memilih bekerja setelah lulus dari SMA/K disalah satu perusahaan waralaba. Dari waktu saya memberikan berkas surat lamaran hingga dipanggil, saya harus menunggu selama 17 hari baru mendapatkan panggilan. Lama? gak termasuk lama juga sih. Bahkan ada perusahaan besar yang hingga berbulan-bulan baru dipanggil. Interview dilaksanakan pukul 9.30 pagi. Sedangkan saya sebelum berangkat, ada temen yang nyebelin bin ngangenin datang kerumah saya jam 9.05. Demi minta asupan anime yang saya punya. Demi Akashi jadian sama Kuroko! Tertundalah saya karena godaan anime yang mengalahkan godaan es batu ditengah panasnya hari puasa! jadilah saya menggosip anime ala ibu-ibu komplek perumahan yang sedang kumpul di tukang sayur keliling. Hingga jam 09.20 saya baru bisa mengusir secara halus teman saya pulang keasalnya. Lalu saya berangkat dengan wajah lupa di-make-up. Bedak pun enggak. Samasekali! jadi bisa bayangkan? wajah saya seperti baru bangun dari tidur cantiknya. Kata orang jawa "kumus-kumus".
Kesialan saya belum selesai sampai disitu. Karena saya menyerahkan surat lamaran kerja dicabang, jadi saya harus menuju pusat untuk wawancara. Karena saya anak-rumahan-disayang-mimi, saya jarang keluar dan mengetahui jalan-jalan di Kota Kediri. Saya nyasar. Yup! sial kan? sendiri naik motor dan nyasar entah kemana. Saya sempet bolak-balik karena saya kira PT pusat berada di Jl. Kawi. Saya muter-muter ke jalan itu. Sampai-sampai melewati 3x perempatan bolak-balik dan jam yang sudah menuju angka 10. Hingga saya yang pemalu-dan-maluin-tapi-butuh tanya ke abang-abang kuliahan yang lagi ngantri nasi bungkus. FYI, abang tukang becak ketuaan. Jadi sesekali gitu dong, modus sedikit tapi dapat banyak hihihi. Hush! kebetulan aja sih, karena tempatnya dekat dengan kuliahan dia. Kenapa tau dia kuliah disana? jas almamaternya bro. Setelah tanya dan diberi tahu, ternyata saya kebablasan hingga melewati 4 perempatan.
Sekitar 1 km dari titik pusat terlewati dan bensin menyusut begitu saja. Tanpa sadar tadi saya hampir mencapai lokasi tapi balik lagi karena saya kira tempatnya bukan dijalan ini. Bodohnya saya... tanpa jadi modus ke abang kuliahan berjas almamater saya langsung tancap gas menuju lokasi interview yang udah telat 40 menitan. Optimis itu utama, dimarahi HRD urusan belakangan, yang penting jangan mudah berputus asa. Setelah kelokasi saya kira interview udah bubaran, tapi setelah lihat ada beberapa motor parkir diluaran, saya ikut juga parkir. Wajah "kumus-kumus" dan linglung bingung mau tanya kesiapa terpampang secara nyata. Untung didepan ada orang yang lagi duduk, saya spontan tanya "Wawancaranya apa sudah selesai ya mbak?" Setelah saya tanya hal itu, saya baru nyadar jika mbaknya juga niat interview juga dilihat dari pakaian dan ekspresi muka yang tegang dan kaget seperti baru ketemu Avril Lavigne duet sama Opick. Dia dengan senyum ramah tapi dipaksa menjawab, "belum mba. Saya juga lagi interview tapi disuruh nunggu diluar dulu." Waha! Syukurlah saya nggak telat. Karena masih ada satu orang yang baru sampai juga setelah saya. Setelah masuk satu-satu, saya dipanggil menuju dalam. FYI, perusahaan ini bergerak dibidang beverage/minuman. Jadi jangan harap ada orang kantoran bening muda lewat didepan saya. Maaf, pikiran penulis sedang trouble setelah tersesat otak juga ikut tersesat/?
Pertama, ditanyalah nama saya lalu si HRD ini ngambil surat lamaran saya.
HRD: Selamat pagi mba Arum.
Saya: Selamat pagi juga pak. (Gak ada perasaan dag dig dug tokidoki sama sekali. Tegang? Jangan harap ada dikamus saya. Karena saya berjiwa super santai dan bebas berwajah lempeng.)
HRD: Silahkan perkenalkan diri anda, potensi apa saja yang anda miliki. Silahkan diceritakan semuanya. (Saya yakin semua perusahaan kecil-besar yang pertamakali ditanyakan adalah ini. Tips dari saya, kamu harus menceritakan profil lengkap kamu, pengalaman kamu, potensi dan keahlian tambahan yang kamu punya.)
Saya: Nama saya Arum Purwanti. Saya berumur 18 tahun, tanggal lahir saya 27 januari 98. Saya berasal dari SMK X jurusan tata boga. Pengalaman saya direstoran xxx Kediri pada waktu Praktek Kerja Industri. Keahlian tambahan saya yaitu membuat beberapa tulisan, saya juga mempunyai blog dan dapat mengoperasikannya. (Bodohnya saya hanya menceritakan seperempat dari apa yang sudah saya siapkan di otak. Padahal gugup pun gak samasekali.)
HRD: oh bisa ngeblog ya? apa aja isi blog kamu?
Saya: Cuma tulisan yang saya tulis sehari-hari dan cerpen pak. Karena baru-baru ini juga saya buat blog untuk iseng-isengan.
HRD: Suka nulis ya? masak? suka juga gak? jarang saya nemu anak tata boga yang punya blog.
Saya: iya pak. Namanya juga hobi dari kecil. Blog cuma buat perantara aja pak. Masak saya suka pak. Tapi nggak ada yang bisa ngalahin saya suka nulis.
HRD: Jadi, motivasi kamu kerja apa?
Saya: Ya biar bisa dapet uang pak. (Anjrit! Saya nyesel ngucapin ini! Dengan polosnya ngomongin masalah duit pas ditanya motivasi kerja.)
HRD: ooh. Udah? Itu aja? Adalagi? (Saya bisa baca ini HRD nahan tawa dan pandangan nggak enak. Pasti!)
Saya: Nambah pengalaman juga pak. (Tambahin! Jangan terlalu polos wahai penulis!!)
HRD: Teman? enggak butuh?
Saya: ya itu juga termasuk.
HRD: Ilmu juga ya. Pengalaman sama ilmu itu beda loh.
Saya: Oh beda ya pak? baru tau. Bedanya dimana pak?
HRD: Ilmu itu pengetahuan yang harus dipelajari, dihafalkan biar masuk keotak. Kalau pengalaman itu guru yang gak sengaja kita temui tanpa dihafal masuk dan membekas diotak. Itu bedanya.
Saya: Oh begitu. (Lalu situasi hening sejenak sampe beberapa detik. Gak ada topik, gak ada perbincangan. Dingin bro.)
HRD: Oh iya. Bisa naik motor kan?
Saya: Bisa pak.
HRD: Punya motor ya? naik sendiri kan?
Saya: Iya pak. Tapi jarang pak. Pas sekolah juga diantar jemput. Karena motor buat giliran. (Betapa bodohnya saya ngucapin ini dengan polos. FYI, kalau kamu ditanya seperti ini saran saya jangan jawab diantar-jemput. Karena beberapa perusahaan berpikir dua kali untuk menerima calon karyawan yang diantar-jemput bahkan gak punya/gak bisa bawa kendaraan.)
HRD: naik motor sendiri pas kerja sanggup ya?
Saya: Sanggup pak. Insyaallah.
HRD: Ada niatan kuliah?
Saya: Ada pak tapi gak tahun ini. (FYI, jika kamu gak mau kuliah, pas interview kerja jawab saja tidak. Tapi kalau ada jawab ada, tapi tidak tahun ini. Jika kamu ingin kuliah ditahun yang sama, bicarakan baik-baik sama HRD. Kamu harus punya komitmen yang kuat antara kerja dan kuliah. Perusahaan akan mikir berkali-kali untuk nerima kamu jika kamu terlihat bingung berkomitmen.)
HRD: oh gitu. Untuk info, disini keluar-masuk karyawan itu biasa. Ada yang dikeluarkan karena umur sudah gak termasuk kriteria lagi, ada yang keluar karena kuliah, dan lainnya. Karena yang kita butuhkan yang berusia muda. Siap gak siap harus siap ya.
Saya: Iya pak. Insyaalah siap.
HRD: Mungkin ada yang ditanyakan mbak Arum?
Saya: Mungkin tentang mulai kerja kapan?
HRD: Ini masih perkenalan mba. Jadi belum mulai kerja. Nanti akan dites praktek selama 7 hari. Untuk saat ini perkenalan saja dulu nanti tunggu sekitar 3 hari bila ada panggilan kita lanjutkan sesi interview bagian 2. Jika seminggu kerja praktek memuaskan, baru kami rekrut.
Saya: oh gitu pak. Iya pak siap. (Dalam hati "Sial! di php kerjaan lagi!")
HRD: ada yang ditanyakan lagi?
Saya: enggak pak. Cukup.
HRD: Cukup sampai disini. Terimakasih mba. Hati-hati dijalan.
Saya: Iya pak sama-sama.
Polos yang keterlaluan, jiwa santai dan bebas yang hardcore gak boleh dibawa pada waktu interview kerja, daftar sekolah, atau kuliah ya guys. Ingat? Perusahaan itu milik orang lain yang akan menghidupi kalian. Jadi, kalian harus mau ikut peraturan perusahaan. Dari dialog diatas, banyak juga calon karyawan yang merasa dirinya diberi harapan gantung oleh perusahaan. Padahal perusahaan hanya melakukan seleksi yang terbaik demi majunya perusahaan mereka. Harus dirundingkan berkali-kali oleh atasan. Jangan sampai salah mengambil karyawan yang ujungnya super badung dan melakukan tindakan yang bisa merugikan perusahaan. Yang rugi banyak bukan kalian, iyasih rugi pada pemotongan gaji misalnya syukurin aja jika di PHK.
Jadi, berhenti beranggapan bahwa HRD personalia yang sedang menginterview karyawan adalah pekerjaan yang membuat orang merasa digantung. Sebenarnya tidak begitu jika kalian melihat dari sudut pandang yang lain.
Sukses tak akan berhasil tanpa semangat dan kerja keras. Sukses gak harus berpendidikan tinggi, berpendidikan tinggi belum tentu sukses. Sukses bukan mempunyai banyak uang, tapi seberapa banyak impian yang berhasil kalian raih.
Jadi, sudah menentukan pilihanmu? sukses setelah kuliah atau sukses setelah lulus sekolah? jangan lupa ya, interview yang cerdas!
Kamis, 12 Mei 2016
Cerita Pendek (Rumah Kardus di Tanah Emas)
Aku, si pemuda Ramos berdiri sendiri, tiada berpangku laksana aksara jawa. Sekiranya aku menerima segenggam ijin mengkokohkan bangunan kecil bekas jepang dulu di dekat surau abah Salim. Beliau adalah guru desa, usianya sudah beruban tetapi jika engkau tahu, semangatnya kekar bak baja. Abah Salim bila tergelak tawa sangat menggelikan hati, acapkali anak desa rutin menjenguk abah Salim. Beliau orang jawa asli, mayoritas desa kelahiranku memiliki ras berkulit gelap, berambut ikal, dan berhidung besar. Kata turis kami eksotis, aku belum pernah bertanya pada abah Salim apa makna eksotis.
Aku sebatang kara, mencari reruntuhan ranting kering untuk ditukar dengan sagu di pasar. Di papua, tempat si Aku dilahirkan kerap dijadikan panutan dunia. Mengembaralah akalku memikirkan si perkataan abah Salim. Aku tak penuhlah mengerti maksud abah Salim petang lalu, yang kutahu hanya merajut hari dengan segenggam sagu. “Ramos, acapkali kau keluar-masuk rumah? Apa gerangan yang terjadi?“ Markus kawanku itu bak terpaku melirikku, sedari tadi aku hilir mudik dari hutan belakang gubuk ke rumah. “Kau kemari sedari kapan? Sekiranya bantu aku memindah kayu ke rumah.“ Kupinta Markus membantuku, tetapi hanya kulihat Markus memilah buah di keranjang rotan. “Aku kesini untuk antarkan sekeranjang buah dari abah Salim. Kata beliau, ini hasil kebun yang merakyat. Oleh sebab itulah abah membagikan hasil kebun ke para tetangga secara cuma-cuma.“
“Tak pernahlah abah Salim hidup susah layaknya kita. Tak pernah makan sagu-pun, nasi jadilah kenyang. Ikan, daging, sayur selalu ada. Bagaimanalah nasib kita, Kus? makan sagu bekas kemarin asal tak basi itupun sudah bahagia.“ ucapku pada Markus sembari menggotong sekarung kayu bakar di punggungku.
Sering kudengar dari TV abah Salim perkara gunung emas tidak jauh jalannya dari desa. Kata media gunung emas bukan mengandung emas saja, sangatlah besar tak terkira gunung itu. Membusung menantang langit, tak sebesar puncak salju Jaya Wijaya memang tetapi pastilah sangat indah gunung emas di seberang desa. “Markus, apa kau tahu gunung emas seberang desa?“ belumlah si Markus menyahut kataku tadi kulanjutkan tanya yang ingin kukeluarkan. Kulihat Markus tergupuh memilah buah di keranjang, tak jarang ia memakan pisang ambon. “Kau belum tau? aku pernah kesana menemani abah Salim, kata abah ingin mengambil pensiunan. Nama tempat abah Salim kerja dulu ya gunung emas itu. Tetapi sebutan terkenal yang sampai negeri paman SAM itu sekarang tinggal poto sajalah, Ramos. Gunung itu jadi cekung setiap jam dikeruk. Bukan emas saja yang tinggal disana, ada pula tambang murni lain.“ Oh pantaslah abah Salim mudah sekali punya uang. Aku terbuai penasaran oleh pekerjaan abah Salim kenyataannya. Beliau pun makan, minum, senangpun dari gunung emas pula.
“Cekung macam kawah? Bukankah gunung sangat menjulang dan berisi? Apalah jadi jika dikeruk setiap jam? Bukankah negara kita akan kaya, Kus?“
“Yang mengeruk penjajah masa modern, dia yang genggam hasil keruk emas itu, negara kitapun hanya dibagi secuil, kecil layaknya sebutir garam. Lihat orang kulit putih di seberang desa, pakaian mereka setiap hari elok sekali, wajah mereka bening pula, sepatu mereka layaknya baru dibeli setiap hari. Pikirlah dari emas siapa mereka merawat diri? Aku tak pandai merangkai hidup elok seperti mereka. tak mesti yang hidup bersama uang emas, cukuplah bahagia hidup di tanah emas tapi tak pernah mencopet harta negeri orang.“ kurenungi ucapan kawanku, dia memang lebih pandai dari aku.
Markus pernah hidup di ibukota selama setahun, itupun sudah mual-mual kapok naik pesawat katanya. Aku masih terpaku pada gunung emas yang jadi kawah. Semestinya aku bangga, hidup berpijak emas, tidur beralas emas. Kini gunung emas bekas cerita empat puluh tahun dulu, menyesalku tak dapat lahir pada waktu itu.
“Kau tau banyak sekali. Aku paling tak sepintar kau, hanya tau baru saja darimu.“
“Itu karena di Jakarta dulu aku sempat tinggal bersama mahasiswa fakultas hukum. Mereka kerap bercerita Freeport, gunung emas itu. Penjajah modern sudah melanggar undang-undang negeri kita, Mos.“ kata Markus sembari menggotong keranjang ke dalam rumahku. Aku mengikuti dari belakang.
“Oh ya, kau tau ucapan Presiden pertama kita Ir. Soekarno dulu sebelum kita lahir?“ Markus bertanya padaku,
“Tidak, seperti apa ucapan itu?“ aku duduk di tikar kecil pemberian abah Salim. Tidak rusak, tidak kotor pula, memang abah sengaja beli tikar untuk aku.
“Ucapan Ir. Soekarno tidak dapat dipegang hingga sekarang, kurang lebih beginilah 'Biarkanlah gunung emas kita tetap kokoh berdiri. Tunggulah pemuda generasi bangsa dapat mengolah sendiri.' bung Karno pun pernah digoda oleh rayuan bangsa asing pula untuk mengeksplorasi gunung emas milik kita, tapi beliau teguh pendirian untuk menolak.“
“Menurutku, bangsa kita ini butuh satu lagi pemimpin yang berjiwa seperti Bung Karno, Mos. Aku mual melihat permainan politik jaman modern. Tak ada habisnya jika dibahas.“ lanjut Markus. Dari jauh abah Salim berjalan menuju kemari. Beliau menenteng sekantong plastik besar entah apa itu, beliau meneriaki kami berdua.
“Heeiii... ada daging ayam segar! Ramos! Markus! marilah kesini, ayo kita bakar ayam ini, kita santap bersama.“
Please Come The Tender Rain
Duka yang terlahir hari ini membubung tinggi terbang ke angkasa.
Angkasa membuka matanya, memanggil angin yang berdesir, berbisik malu.
Membuat hati berdenting tak tahu malu. Aku ingin melindungimu,
Aku ingin meraba takdirmu,
Aku ingin mengisi relung hati dan luapan airmatamu dengan kebahagiaan.
Hujan nun lembut...
Semoga laguku ini bisa meraihmu
Tak peduli seberapa jauh jarak di antara kita.
Kupercaya...
lagu ini akan sampai padamu, menyampaikan sesak yang kusimpan erat.
Aku bernyanyi dalam hujan.
Tetesan hujan yang terus bersinar begitu indahketika segala duka sirna dari muka bumi.
Dunia ini akan mulai berputar
Kumohon datanglah, hujan nun lembut
Meskipun suatu hari pemandangan ini kan layu,
Aku akan terus memenuhi manik matamu itu dengan luapan perasaan.
Kuingin hati kita terjalin, Kuingin menyentuh lukamu,
Di saat pagi, kau membuka mata,
Kuncup bunga di tanah yang basah ini pasti akan mekar berseri.
Hujan nun lembut...
Dengarkanlah dengan saksama Hujan yang melebur ke dalam lembutnya udara.
Perlahan, perlahan jatuh membasahi bumi Selalu, berada di sisimu.
Kubernyanyi di dalam hujan
Aku bernyanyi menitipkan perasaanku ke dalam suara tetesan hujan yang akan bertahan hingga ke mana pun.
Melintasi ruang dan waktu,
Menuju pesona cinta yang menyilaukan dimanapun kau berada.
Datanglah, hujan nun lembut...
Takdir apapun yang menunggu,
Tak akan bisa merebut hati kita yang terjalin.
Duka apapun yang merundung, Tersenyumlah.
Kita akan kembali ke angkasa.
Hujan nun lembut...
Semoga laguku ini bisa meraihmu
Tak peduli seberapa jauh jarak di antara kita
Kupercaya, lagu ini akan sampai padamu.
(Thanks to: anime Soredemo sekai wa utsukushi)
Kisah Surat Yang Tak Pernah Sampai
Aku mengais peluh tinta yang kugoreskan dalam balutan kertas putih. Walau ku tahu tak pernah sampai pada pujangga sang penikmat diam, walau kutahu ia akan terbuang, kumal. Aku tak pernah capai pula saat beribu gaya bahasa kucipta untuknya. Dari deduksiku, maupun melalui sarkasme.
Aku si penikmat dalam diam pernah terjatuh dalam keramaian, aku takut, tergugu, namun kutegakkan kepalaku menantang langit, bangkitnya hingga melawan gravitasi.
Hei kau? jika kutanya bagaimana kabarmu, apa kau akan menjawab? walau raut sendu terbingkai di wajahmu? Bukankah aku yang semestinya capai mengelana masa? Memandangmu dari ujung dunia pun kulakukan, namun kau hanya menikmati pendiam ku.
Mencintaimu dalam diam tak serumit yang mereka inginkan, ia berusaha semu, namun hati berontak bila tersipu denganmu. Hingga aku tertinggal dalam dunia yang terdistorsi, terlena dengan simpul dirimu yang terbit dan tenggelam bersama mentari. Kau dan mereka berputar, namun tak bergerak. Aku berarak berusaha mengikutinya. Dari sisi ke sisi, dari ujung ke ujung, dari manapun bila memandangmu adalah damai. Hingga kutulis lembar demi lembar jejakku dalam senandung setiap nafas berhembus, saat bibir tak lagi dapat berpinta.
Aku adalah pecundang dalam diam. Yang hanya menulis surat dari jarak luasnya dunia. Aku adalah si penokohan bodoh. Memimpi harapan yang tak pernah lunas. Kini lembaran yang kutulis tertinggal jauh, terjatuh dalamnya palung samudra. Suratku tak dapat bangkit ataupun terbang. Biarlah suratku yang tertinggal mencari seseorang pengharapan, alasan ia ditulis. Dan biarlah ia terpendam masa, terdistorsi seperti yang kulakukan dulu. Terus memendam dirinya sendiri. Karena jika suratku tak pernah sampai, ia akan kembali pada sang penulisnya. Mengadu betapa lelahnya mereka.